Disclaimer: NARUTO
MILIK MASASHI KISHIMOTO
warning: OOC, AU,
typo, ide pasaran, Gaje, EYD kacau dll
Fic ini
dipersembahkan untuk memeriahkan LAFSEvent NaruSaku day 3/4
oke tanpa banyak ngomong, I hope u like it, in this Story
aku melihatnya lagi. Dibawah
panasnya matahari musim semi dibawah rindangnya pohon sakura. Ia duduk disebuah
bangku taman seorang diri. Dengan memakai gaun yang sama dengan surainya ia
terlihat cantik. Ditambah lagi dengan topi yang melingkar di kepalanya menambah
aksen cantik pada diri perempuan itu. Tanpa sadar aku sudah bersemu merah
melihatnya.
“apa yang kau lihat, Naruto?”
tanya seorang pria yang mempunyai tato segitiga di kedua pipinya yang kini juga
duduk disamping Naruto.
“aa—hh tidak ada hanya melihat
Sakura.” jawab Naruto yang terbata-bata pada awal kalimatnya. Ia Naruto—memang
melihat Sakura. Sakura seorang perempuan yang tengah duduk sendirian dibawah
pohon Sakura. Walaupun sebenarnya ia juga tak pernah tahu bahwa nama perempuan
yang selalu diperhatikannya itu adalah Sakura.
“ohh, ayo kita pergi Naruto!
Sebentar lagi kau ada rapat dengan para manajermu.” ajak Kiba pada Naruto untuk
meninggalkan taman, “Baiklah, ayo.” lalu
mereka pun pergi meninggalkan taman tanpa tahu bahwa perempuan yang
diperhatikan Naruto sejak tadi juga melihat kepergiannya.
“Nee-chan apa yang kau lakukan
disini?” panggil gadis yang mempunyai surai serupa dengan orang yang
dipanggilnya Neechan tadi tetapi ia mempunyai rambut yang lebih merah
dibandingkan Neechan nya, “lihat, Neechan menangis lagi. . .sebaiknya kita
pergi dari sini.” ajak Sara pada Neechannya pergi bersama meninggalkan taman
yang menjadi saksi bisu akan sebuah peristiwa yang membuat Sakura selalu
menangis ketika mengingat kejadian itu.
Di sebuah gedung terbesar di
Jepang. Tampak disana banyak orang mondar-mandir melakukan pekerjaan mereka
seolah-olah mereka sedang di kejar waktu. Mereka bekerja dengan giat dan
hati-hati seakan-akan tak ada waktu lain untuk bekerja.
Oke, kita tinggalkan sejenak
segala kesibukan yang terjadi di dalam gedung itu. Sekarang fokus kita adalah
melihat seseorang yang kini tengah menjelaskan mengenai bagaimana strategi
perusahaan mereka dalam meghadapi para pesaingnya yang kini semakin banyak
bermunculan. Terlihat seorang pemuda dengan memakai kemeja bewarna putih dan
jas yang kini tersampir di kursinya—dan tak lupa dengan dasi bewarna merah
marun yang terpasang di baju kemejanya. Pemuda yang mempunyai rambut bewarna
pirang dengan mata shappirenya yang bisa membuat siapa saja merasa hangat jika
menatap kedua mata itu. Dengan alis pirang yang sesekali bertaut tanda ia juga
sedang memikirkan keputusan seperti apa yang akan ia ambil untuk kemajuan
perusahaannya.
Dengan terdengarnya tepuk tangan
dari para karyawan yang menandakan bahwa presentasi yang di sampaikan tadi
telah usai. Namikaze Naruto pun selaku Direktur dari perusahaan itu
menyampaikan tanda setuju akan gagasan
yang diberikan oleh salah satu menajernya. Walaupun masih ada perbaikan yang
akan ia lakukan dalam gagasan manajernya, “Baiklah, rapat hari ini cukup sampai
disini. Kalian boleh keluar.” perintah Naruto pada semua karyawannya. Setelah
memastikan seluruh karyawannya keluar dari ruangan. Naruto pun mulai
menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang ia duduki. Berkali-kali ia
menghela nafas lelah untuk mengurangi segala kepenatan yang dirasakannya.
Sambil bersender di kursinya.
Naruto melihat jam yang melingkar di tangannya, “haa, sudah jam 17.00 rupanya.”
ucap Naruto sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, “sepertinya, aku harus
pulang.” ucap Naruto pada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian Naruto pun
telah sampai di depan rumahnya. Dengan perlahan ia memasuki perkarangan
rumahnya dan dengan hati-hati ia memakirkan mobilnya di bagasi mobil yang telah
ia siapkan. Setelah terparkir rapi Naruto pun segera memasuki rumahnya yang
besar. Dan ketika ia membuka pintu rumahnya yang ia lihat hanyalah kekosongan.
. .
Dengan perlahan naruto menaiki
tangga rumahnya menuju kamar yang hanya ia tempati seorang diri. Dengan
melepaskan segala pakaian kantornya Naruto pun segera masuk ke kamar mandi
untuk membersihkan dirinya. Disela-sela mandinya ia teringat akan perempuan
yang selalu ia lihat kala berada di taman. Perempuan yang mempunyai surai
sewarna dengan bunga Sakura itu selalu membuat hatinya merasa hangat. Hanya
dengan melihatnya saja dunia Naruto seolah-olah behenti. Tak ada objek lain
yang dapat ia lihat hanya perempuan itu lah yang bisa ia lihat. Mungkin Naruto
memang sudah jatuh cinta pada perempuan itu lebih tepatnya ia sudah jatuh cinta
pada pandangan pertama dengan perempuan itu. Hanya saja ia tak mempunyai
keberanian untuk menyatakannya.
“Neechan, bisakah kau berhenti
menatap kosong sepeti itu!!” bentak Sara kepada Neechannya yang hanya di
tanggapi dengan tatapan kosong oleh Sakura tanpa mengucapkan kata-kata pada
adiknya yang telah membentaknya tadi.
Merasa tak ada tanggapan dari
Neechannya, Sara pun melanjutkan kata-katanya lagi, “aku lelah menghadapi
Neechan yang seperti ini. Aku ingin Neechan ku yang dulu,” ucap Sara yang matanya
kini mulai berkaca-kaca menghadapi sikap Neechannya yang seperti tak ada
semangat untuk hidup.
“apakah Neechan masih ingat
dengan Gaara-niichan.”
'deg'
Sakura terkejut dengan kalimat
yang baru saja keluar dati mulut adiknya itu. Akan tetapi keterkejutannya itu
langsung di tutupinya dengan tatapan yang kembali kosong. Hingga Sara pun
kembali berujar, “sudahlah Neechan, jangan bersedih lagi Gaara-niichan pasti
ikut sedih juga melihat keadaan Neechan seperti ini.” mendengar kalimat yang
keluar dari bibir adiknya itu, pandangan mata Sakura yang kosong itu sekarang
mulai menitikkan air matanya secara perlahan. Yah Sakura menangis namun tidak
disertai dengan isakan ia menangis dalam diam. Melihat Neechannya yang menangis
Sara pun segera memeluk tubuh Neechannya dan membisikkan kata-kata penenang,
“menangislah Neechan jika itu membuatmu tenang. Aku akan menunggumu sampai
tertidur.” dan ketika Sara membisikkan kata-kata penenang itu Sakura pun mulai
tertidur.
Keesokan harinya
Lagi-lagi Naruto melihat perempuan
itu duduk sendirian di bangku taman—di bawah rindangnya pohon Sakura. Namun,
kali ini ia tak memakai topi yang biasanya selalu ia pakai untuk menutupi
rambutnya melainkan kini rambut yang seindah bunga sakura itu hanya ia kuncir
setengah saja—sehingga menyisakan beberapa helai anak rambut yang menyentuh
punggungnya. Tak henti-hentinya Naruto memperhatikan paras cantik yang beberapa
meter berada di hadapannya. Kali ini Naruto mulai merasakan hal yang aneh
ketika menatap Mata perempuan itu. Ya, Naruto melihat ada suatu keanehan dalam
mata perempuan itu. Ia melihat suatu kekosongan dalam mata itu. Kosong dan tak
ada semangat hidup . . .
sementara perempuan yang dari
tadi terus dipandang Naruto. kini tengah teringat dengan kejadian yang selalu
saja menghantuinya..
Flasback
Hari ini adalah hari yang
membahagiakan bagi Sakura. Bagaimana tidak bahagia, ini adalah anniversarry
pertama Sakura bersama dengan orang terkasihnya yaitu Sabaku Gaara. Ia sangat
mencintai kekasihnya itu walaupun orang yang ia cintai ini selalu sibuk dengan
urusannya bahkan hampir saja lupa dengan anniversarry mereka yang pertama kalau
saja Sakura tadi tidak menelponnya mungkin Sabaku Gaara masih sibuk dengan
bisnisnya. Kini Sakura tengah duduk sendirian di bangku taman—di bawah rindangnya
pohon Sakura yang kini mulai berbunga karena ini telah memasuki musim semi.
Sambil bersenandung dan tersenyum sendiri—Sakura kembali teringat dengan
pembicaraan melalui telepon dengan Gaara tadi pagi . .
“ohayou panda-kun.” ucap Sakura
dengan semangatnya sambil tersenyum menunggu jawaban dari orang terkasihnya..
“Hn, ohayou Cheery.” jawab Gaara
dengan serak karena mendapat telepon dari orang terkasihnya.
“kau baru bangun tidur, panda-kun
. .astaga kau ini! Memangnya kau tidur
jam berapa?”
“Hn, seperti yang kau dengar. Aku
baru saja bangun dari tidur dan sekarang tiba-tiba saja ada suara bidadari yang
membangunkan di pagi hari yang bahkan matahari saja belum muncul.” jawab Gaara
dengan panjang lebarnya.
“aa—hh gomen mengganggumu.” ucap
Sakura dengan serba salah. Mendengar Sakura yang minta maaf . .Gaara hanya
tersenyum sendiri, “memangnya ada apa?”
“Aa—ano apakah kau ingat ini hari
apa?” tanya Sakura dengan gugupnya
“ memangnya hari apa?” jawab
Gaara dengan polosnya sementara Sakura yang berada di seberang telepon hanya
menghela nafas, “kau tak ingat ya. Inikan hari pertama kita jadian sebagai
sepasang kekasih.” bisik Sakura dengan suara yang kecil tetapi masih mampu di
dengar Gaara yang kini hanya menyeringai mendengar ucapan Sakura yang tampak
lesu.
“oh, ya aku ingat hari ini tepat
satu tahun kita resmi berpacaran. Betul kan?” tanya Gaara yang kini terdiam
menunggu balasan dari Sakura. Sementara Sakura yang parasnya tadi menunjukkan
kesedihan kini tampak berbinar-binar tanpa banyak kata lagi Sakura pun
menjawab, “hu'um, aku ingin kita pergi ke taman dimana kita bertemu pertama
kali. Nanti jam 09.00 aku tunggu ya.” ucap Sakura panjang lebar, “aku
mencintaimu Gaara. Aku akan menunggumu.” sementara Gaara hanya tersenyum
mendengar suara Sakura, “aku juga mencintaimu, Sakura—tunggu aku.”
Dan disinilah Sakura menunggu
seorang diri dibawah pohon Sakura. Semilir angin musim semi yang lembut tak
henti-hentinya menerbangkan surai merah mudanya yang tampak berkilau diterpa
sinar matahari. Tanpa sadar Sakura melihat jam yang melingkar di pergelangan
tangannya, “sudah jam 10.00 tidak biasanya ia telat.” gumam Sakura pada dirinya
sendiri karena ia tahu walaupun kekasihnya itu sibuk ia pasti tidak akan telat
seperti ini. Dia adalah orang yang selalu menepati janjinya. Dan tak lama
kemudian handphone Sakura berbunyi yang menandakan adanya panggilan yang masuk.
Langsung saja Sakura mengangkat teleponnya tanpa melihat lagi siapa yang telah
menelponnya, “moshi-moshi Panda-kun.”
“apa benar ini Haruno Sakura?”
tanya seseorang diseberang sana
“ya, benar. Ada perlu apa?” tanya
Sakura yang kini telah diselimuti dengan perasaan takut dan cemas di tambah
lagi dengan detak jantungnya yang kini semakin memburu. Entah kenapa ia menjadi
tidak ingin mendengar kelanjutan dari omongan orang yang tengah menelponnya
sekarang.
“Sabaku Gaara mengalami
kecelakaan dan kami tidak bisa menyelamatkannya lagi.” dunia Sakura serasa
runtuh hanya karena mendengar kalimat itu. Ia tak percaya bahwa orang yang ia
cintai dan tunggu. Kini sudah pergi meninggalkannya—meninggalkannya untuk
selama-lamanya.
End of Flashback
Dan tanpa di sadari . . Sakura
menangis, ia menangis dalam diam. Ia menangis jika mengingat itu lagi. Dia tak
tahan lagi matanya terus mengeluarkan air mata yang tak terbendung lagi.
Setengah hidupnya telah di bawa oleh Gaara dan yang ia rasakan hanya
kekosongan.
Masih dengan terus memandang
perempuan itu. Naruto sadar bahwa perempuan yang ia lihat tadi kini tengah
menangis dalam diam. Bukankah seharusnya orang menangis itu pasti terdengar
suara tangisnya walaupun hanya sedikit. Tapi perempuan ini tak seperti itu, dia
tak bersuara hanya air matanya lah yang tak henti-hentinya mengalir melalui
pipinya. Bahkan air mata itu semakin deras. Hingga Naruto dapat melihat
perempuan yang ia perhatikan tadi kini telah tergeletak di bangku taman tak
sadarkan diri. Dan dengan cekatan Naruto pun segera menghampiri perempuan itu
dan membawanya ke rumah sakit.
Di ruangan yang di penuhi dengan
bau obat-obatan itulah Sakura terbaring. Terlihat adik Sakura yang kini duduk
di salah satu kursi dekat ranjang Sakura. Dengan air mata yang terus mengalir.
Tak henti-hentinya Sara menggenggam tangan Neechannya—dan mengucapkan berbagai
kalimat agar segera sadar.
Sementara Naruto yang melihat dua
bersaudara itu hanya memandang dengan tatapan sendu. Hingga ia dapat mendengar
suara dari adik perempuan yang ia tolong tadi, “terima kasih atas bantuannya,
Tuan.” merasa ada yang mengajaknya berbicara Naruto pun segera menjawab, “ahh,
bukan apa-apa. Tapi bisakah kau memanggilku dengan Naruto saja.” jawab Naruto
yang kini tengah menggaruk kepalanya yang tak gatal, “baiklah dan perkenalkan
namaku Sara.” jawab Sara dengan senyum manisnya.
Hening . . .tak ada suara antara
mereka berdua yang ada hanya suara langkah sepatu orang-orang yang berlalu
lalang di depan ruangan Sakura. Hingga Sara membuka suaranya untuk memulai
pembicaraan, “sebenarnya dulu Neechan adalah orang yang selalu tersenyum dan
ceria.” kini Sara mulai menatap Neechannya yang masih memejamkan matanya, “ia
selalu berbagi kehangatan dengan orang di sekitarnya. Tak peduli apa ia di
terima atau tidak.” sementara Naruto hanya menyimak apa yang dikatakan Sara, “
tapi semenjak kejadian itu, Neechan ku berubah. Ia tak sama dengan Neechaku
yang dulu. Ia seperti mayat hidup dan tatapannya selalu kosong. Dan terkadang
ia akan menangis dalam diam.” kini air mata Sara juga mulai bercucuran
menceritakan masa lalu kakaknya.
“semenjak kejadian itu, Neechan
ku selalu menunggunya. Menunggu ia untuk menepati janjinya di taman yang selalu
yang ia datangi seorang diri. Ia tak percaya akan kenyataan bahwa orang yang
selalu ia tunggu adalah orang yang telah meninggal.”
akhirnya Naruto tahu kenapa
perempuan bersurai merah jambu ini selalu berada di bangku taman itu. Ternyata
ia selalu menunggu kekasihnya untuk menepati janjinya. Sesak memang mengetahui
bahwa orang yang paling kau cintai kini telah tiada. Entah mengapa Naruto
merasakan sesak ketika mendengar penjelasan Sara mengenai Sakura yang begitu
cintanya pada pemuda itu—hingga membuat orang yang telah mengambil hatinya itu
harus kehilangan dirinya sendiri yang kini hanya bagaikan mayat hidup. Apakah
ia bisa mengganti posisi pria itu. Entahlah . . .
“aku tahu Naruto-san selalu
memperhatikan Neechan-ku.”
dan ketika Naruto mendengar suara
Sara. Ia pun tersadar dari pemikirannya sendiri. Akan tetapi ia sangat terkejut
dengan kalimat yang baru saja diucapkan Sara. Bagaimana ia tahu?? apakah ia
melihat ku ketika memandang Neechan nya.
“ Naruto-san pasti terkejutkan.
Aku tahu karena aku pernah melihat Naruto-san selalu memandangi Neechan-ku
sambil bersemu merah.” terang Sara—sementara Naruto sudah menahan malu akibat
perbuatannya yang selalu memandang Neechannya.
“A—apakah Naruto-san menyukai
Neechan-ku.” tanya Saara to the point sementara yang ditanya hanya memalingkan
mukanya untuk menyembunyikan semburat merah tipis yang kini berada di kedua
pipinya. Setelah memastikan tak ada lagi semburat di kedua pipinya Naruto pun
berdehem, “ehhmm, sebenarnya aku hanya mengagumi Neechan mu.”
“souka?? ku kira kau menyukai
kakak ku.” tersirat nada kecewa dalam kalimat Sara mengetahui bahwa orang yang
selalu melihat kakaknya hanya sebatas mengagumi saja, “padahal, aku ingin ada
seseorang yang dapat membantu Neechan-ku melupakan Gaara-niichan.”
“oh, jadi namanya Gaara.” batin
Naruto lalu ia pun mempunyai inisiatif, “tapi jika itu memang bisa membantu
Neechan mu melupakan orang yang ia cintai aku akan membantu mu.” ungkap Naruto
yang kini telah tersenyum pada Sara. Dan Sara hanya membalas dengan senyumnya.
Lagi-lagi aku melihatnya. duduk
sendirian di bangku taman dibawah pohon Sakura seperti yang dikatakan Sara.
Sakura seperti mayat hidup, tatapan matanya kosong. Ia tak ada semangat hidup.
Naruto hanya bisa menghela nafas berkali-kali guna mengurangi ketegangan yang
ada pada dirinya. Dengan langkah
perlahan Naruto pun mulai menghampiri perempuan yang selama ini selalu
diperhatikannya dalam jarak jauh. Dan dengan satu deheman Naruto pun mulai
membuka suaranya, “boleh aku duduk disini, Nona.” tak ada jawaban dari Sakura
ia hanya menatap lurus kedepan tak memperdulikan Naruto yang kini mulai duduk
di sebelahnya.
Untuk mencairkan suasana, Naruto
mulai membuka suaranya lagi—tetapi kali ini ia hanya bersenandung kecil sambil merasakan hembusan
angin yang kini menerbangkan rambut mereka berdua. Dengan sesekali melihat
perempuan yang berada disampingnya. Naruto tetap bersenandung ria. Hingga ia
melihat perempuan itu mulai menitikkan air mata nya dalam diam.
“kenapa menangis Nona? Apa kau
sedih mendengar senandungku? Tetapi menurutku senandungku tidak begitu sedih
hingga membuat seseorang menangis dalam diam.” ungkap Naruto panjang lebar yang
kali ini masih melirik perempuan disampingnya. Namun perempuan yang di ajak
bicara oleh Naruto tetap diam seribu bahasa.
Merasa tak di pedulikan, Naruto
hanya menghela nafas lelah. Ternyata susah juga mengajak orang bicara apalagi
jika orang yang kau ajak bicara tadi sudah tak ada keinginan untuk hidup hanya
karena di tinggalkan oleh orang terkasih.
“aku sedang menunggunya disini.”
ucap perempuan itu yang hampir terdengar sebuah bisikan tapi masih cukup mampu
untuk didengar oleh Naruto, “memangnya nona sedang menunggu siapa?” tanya
Naruto yang kini mulai tertarik pada pembicaraan perempuan itu.
“kekasih-ku.” jawab Sakura dengan
semburat merah yang samar-samar terlihat di pipinya ketika ia mengucapkan kata
kekasih. Namun semburat itu kini telah hilang digantikan dengan tatapan yang
lagi-lagi kosong itu. Mendengar kalimat itu, entah kenapa dadanya terasa sakit dan
sesak namun dengan cepat ia menghalau rasa sesak yang bergelantung di dadanya.
“memangnya kekasih nona itu ada
dimana sekarang?” tanya Naruto walaupun sebenarnya ia sudah tahu akan fakta
dari kekasih perempuan disampingnya ini. Hanya saja ia ingin mendengar secara
langsung dari mulut Sakura.
“ia, mengalami kecelakaan padahal
ia sudah berjanji padaku untuk . , hiks . . . hiks—aku sangat merindukannya
hiks . . .hiks.” tangis Sakura kini mulai pecah. Ia sudah tak sanggup lagi
menahan beban di punggungnya. Ia rapuh dan ia tak bisa melihat lagi bahwa dunia
itu indah yang ia rasakan hanyalah kekosongan. Hingga ia merasakan sebuah
tangan yang mendekapnya erat dan membawanya dalam sebuah pelukan yang hangat.
Jantung Sakura terasa berhenti ketika seseorang memeluknya dengan erat. Ia
merasa nyaman di pelukan ini. Ia merasa terlindungi. Tak henti-hentinya lelaki
yang tengah memeluknya ini mengucapkan kata-kata bahwa semuanya baik-baik saja.
Terlalu terbuai dengan pelukan lelaki itu hingga tak sadar Sakura pun segera
melepas pelukannya pada lelaki itu. Sementara Naruto hanya terkejut dengan
reaksi Sakura.
“maaf aku memelukmu.” ucap Naruto
yang kini diliputi rasa bersalahnya, yang dapat kita lihat dari matanya
sementara Sakura hanya diam saja tanpa menanggapinya, “kalau boleh tahu nama
nona siapa?” tanya Naruto yang kini tengah menggaruk kepalanya.
“Haruno Sakura.” ucap Sakura
sambil melihat ke mata Shappire pemuda di hadapannya. Shappire dan emerald
bertemu. Entah kenapa melihat mata yang
bewarna hijau itu—Naruto seolah-olah dapat melihat seluruh isi bumi. Bahkan ia
dapat merasakan banyaknya kupu-kupu yang mendominasi perutnya. Namun semua itu
sirna ketika si pemilik Emerald itu kini telah memalingkan mukanya ke arah
depan lagi. Saat itu lah ia dapat melihat wajah Sakura yang masih menatap
dengan pandangan yang kosong.
“kau tahu . . .” Naruto mulai
membuka suaranya lagi—ia sengaja menggantung kalimatnya untuk menarik perhatian
perempuan itu. Dan Naruto pun dapat melihat bahwa perempuan yang ia ajak bicara
ini mulai menunjukkan ketertarikan atas kalimat yang baru saja di ucapkannya.
Naruto pun mulai membuka suaranya lagi, “hidup tanpa tujuan itu menyedihkan.
Terlebih lagi hanya karena di tinggalkan oleh orang terkasih lantas kau menjadi
sosok yang lain.” Sakura hanya membelalakkan mata nya ketika mendengar kalimat
yang baru saja meluncur dari mulut pria yang baru saja ia kenal beberapa menit
yang lalu. Sakura hanya bisa tertawa mendengar nasehat yang baru saja ia dengar
dari seorang pria asing. Ini lucu baru saja ia melihat seorang pria duduk
dengan manisnya disampingnya kemudian pria itu melihatnya menangis dan lebih
parahnya lagi pria asing ini menasehatinya dengan seenak jidatnya.
“memangnya, kau tahu tentang
apa?? haa.” balas Sakura dengan nada sarkastik yang kemudian dibalas Naruto
dengan senyuman, “aku tahu semuanya Nona termasuk mengenai kekasih mu.”
“karena aku selalu melihatmu dan
memperhatikanmu dari sana.” tunjuk Naruto ke arah bangku taman yang selalu ia
duduki, “kau tahu, ketika kau pingsan aku yang membawa mu ke Rumah Sakit dan di
sana aku bertemu dengan adik mu dan ia menjelaskan semuanya padaku.”
dan sekali lagi Naruto menghela
nafas, “mungkin aku memang kurang ajar karena selalu melihatmu tapi mau
bagaimana lagi aku mengagumi, hanya dengan melihatmu dari kejauhan sana. Aku
sudah terjerat dengan pesonamu.” sedangkan Sakura hanya terdiam mendengar
kalimat yang di ucapkan Naruto.
“Namun pada hari sebelum kau
pingsan itu aku melihatmu lagi. Waktu itu kau tak mengenakan topi yang biasanya
menutupi kepalamu. Saat itu lah aku menyadari bahwa tatapan mu itu kosong dan
seperti tidak mempunyai semangat hidup.”
“haa,” Sakura hanya menghembuskan
nafasnya perlahan, “kau terlalu berlebihan.”
“aku tak berlebihan itu fakta.”
balas Naruto dengan serius, “mungkin aku telah jatuh cinta pada mu Haruno
Sakura.” jelas Naruto yang kini menatap sepasang emerald di depannya sementara
orang yang ditatap hanya membelalakkan matanya mendengarkan pengakuan dari pria
asing ini, “omong kosong apa ini?”
“ini bukan omong kosong, aku
serius . . .aa—ku ingin membuat Haruno Sakura ceria lagi.” ucap Naruto dengan
memegang kedua bahu Sakura tanpa mengalihkan tatapan seriusnya di kedua emerald
itu.
“kau lucu sekali Naruto. Baru
saja kita kenalan terus kau bilang padaku bahwa kau mencintaiku dan bahkan
sekarang kau ingin membuat Haruno Sakura ini . .” tunjuk Sakura pada dirinya
sendiri, “ceria seperti dulu lagi.” balas Sakura yang kini mulai terdengar
seperti orang yang putus asa, “memangnya kau bisa apa? Haa!! teriak Sakura di
depan Naruto.
Naruto pun hanya menyeringai
seolah-olah meremehkan Sakura, “kau belum tahu aku Sakura. Jika aku sudah jatuh
cinta pada seorang gadis. Maka akan ku lakukan apa saja untuk gadis itu.”
“kalau begitu, buktikan.” balas
Sakura yang kini mulai melangkah pergi. Namun sebelum melangkah terlalu jauh
Naruto sudah menarik pergelangan tangan Sakura, “kalau begitu, bisakah kita
berteman.”
Sakura yang mendengar permintaan
dari Naruto hanya terdiam akan permintaan itu memperhatikan semburat merah yang
kini menghiasi kedua pipi pemuda itu, “baiklah mulai sekarang kita berteman,”
balas Sakura yang kini sudah melangkah pergi. Jika kau lebih memperhatikan lagi
maka akan terlihat semburat merah yang menghiasi kedua pipi cantik seorang
Haruno Sakura. Sementara Naruto kini
telah ber yes ria karena telah bisa lebih dekat dengan perempuan yang
telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
FIN
akhirnya selesai juga, sebenernya ini fic dapat idenya
baru kemaren. Jadi dari kemaren aku ngetik ini fic terus dan baru selesai jam 08.13 tadi pagi dan untungnya dosen aku
yang killer lagi gak masuk hari ini. jadi bisa selesai deh fic ini (
alhamdulillah ya Allah) mau gimana lagi aku pengen banget ikutan LAFSEvent
NaruSaku Day 3/4. soalnya aku udah jatuh cinta banget pair Satu ini ditambah
lagi setelah aku membaca fic NaruSaku nya kak RECCHINON yang Hello Goodbye.
adakah yang tahu dengan fic itu?? kalo blum tahu mending baca dulu deh. #
plakpromosiabaikan#
maaf jika idenya pasaran dan ceritanya masih gantung.
Itulah keterbatasan otak saya dalam memgembangkan cerita saya.# LOL
sekali lagi HAPPY NARUSAKU DAY
dan Salam hangat buat keluarga saya di grup facebook
“<3 Langit dan Bumi <3 The NARUSAKU Indonesian Community” aku cinta
kalian. Tunjukkan kekompakkan kita pada seluruh fans. Bahwa NaruSaku itu ada.
#pasang spanduk LAFSEvent NaruSaku Day 3/4
mohon REVIEW nya . . . .. . .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar